Cerita Suardi, Penjaga Pohon Purba, Gunung Malang

  • Selasa, 09 April 2019 - 06:24:15 WIB
  • Muh. Hifzul Fikri (Joung)
Cerita Suardi, Penjaga Pohon Purba, Gunung Malang

Pohon Lian yang dipercaya berusia ribuan tahun itu tak pernah sepi pengunjung. Baik lokal maupun mancanegara. Di akhir pekan, tempat tersebut lebih ramai daripada biasanya. Di hari itu, jika menyempatkan berbicara dengan penjaganya, Anda akan mendapatkan cerita lain dari pohon purba.

======================

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

Penjaga pohon itu bernama Suardi. Ia akan menyambut kedatangan pengunjung dengan memberikan kartu parkir. Anda tak harus langsung membayarnya, sebab Suardi memang tak memintanya langsung.

Mungkin hanya itu yang dipungut oleh sang penjaga pohon raksasa. Suardi yang mengaku menjadi pemilik lahan tempat pohon purba itu tumbuh mengelola sendiri destinasinya. “Dulu tempat ini dipenuhi semak belukar, kemudian saya rambah sampai jadi lapang seperti ini,” kata Suardi.

Jika ingin melihat kondisi tempat tersebut sebelum dikelola Suardi, kita hanya perlu menengok ke lahan sebelah. Tanah yang kata Suardi merupakan milik pemda itu tak diurus seperti lahannya. Masih penuh rumput liar, yang membuat keindahan pohon purba tertutupi.

Di tempat tersebut, Suardi membangun delapan gazebo. Ada warung, juga toilet dan tempat wudu. Suardi mengatakan, mereka yang ingin singgah untuk beristirahat tidak dikenakan biaya. “Saya tahu mana yang singgah, dan mana yang datang ke sini untuk foto-foto,” terangnya.

Berbicara mengenai usia pohon, Suardi menerangkan jika pohon itu memiliki sertifikat yang dibawa oleh orang Belanda. Tak hanya itu, tim dari Belanda juga mendatangkan data yang menyertakan keterangan proses penanaman pohon tersebut. Dari sanalah ia meyakini bahwa pohon itu ditanam pada sekitar tahun 1668.

Untuk memberikan informasi terkait tahun tersebut, Suardi menuliskannya dalam sebuah media kartun berbentuk jantung. ‘Lian 1668’. Tapi tak hanya itu yang bisa didapatkan dari Suardi. Sebagai penjaga yang puluhan tahun hidup bersama pohon, ia menerangkan jika pohon tersebut konon dijaga atau ditunggui oleh jin perempuan.  “Karena itu, orang-orang yang datang pasti lebih banyak perempuan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Suardi juga menerangkan jika sehari sebelum gempa terjadi, daun-daun hijau pohon itu tiba-tiba berguguran. Ia heran, tak seperti biasanya hal itu terjadi.  Meskipun hal itu kemungkinan disebabkan oleh musim yang membawa angin, namun sebagai orang yang dekat dengan pohon tersebut, Suardi meyakini hal lain. “Pohon ini harus dijaga. Ia dapat menjadi pertanda,” terangnya.

Di luar keyakinan sang penjaga, pohon-pohon itu memang terjaga. Meski Suardi merupakan pemilik sah lahan tempat pohon tersebut tumbuh, namun ia sama sekali tak berhak menumbangkan sang pohon. “Kalau pun tumbang, kita tidak boleh serta merta mengurusnya. Harus ada izin,” terangnya.

Berbicara tentang tumbang, Suardi meyakini jika pohon lian pantang tumbang di saat siang. “Kalau pun saatnya tumbang, maka ia akan tumbang di atas jam 1 malam,” jelasnya dengan nada penuh keyakinan.

Jika Anda ingin mendengarkan banyak cerita lain tentang pohon raksasa itu, datanglah ke Desa Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya. Anda bisa berbincang dengan Suardi. Sebelum atau sesudah mengabadikan diri bersama pohon purba. 

Sumber: Lombokpost.net

  • Selasa, 09 April 2019 - 06:24:15 WIB
  • Muh. Hifzul Fikri (Joung)

Berita Terkait Lainnya