Budidaya Padi di Sumba, Teknologi dan Perubahan Iklim

  • Kamis, 02 Mei 2019 - 08:41:04 WIB
  • Muh. Hifzul Fikri (Joung)
Budidaya Padi di Sumba, Teknologi dan Perubahan Iklim

Sektor pertanian di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, termasuk penerapan teknologi dan perubahan iklim. Sebuah upaya tengah dilakukan untuk mengatasi tantangan itu sekaligus. Berikut laporannya.

Masyarakat Sumba Timur menyebut wilayahnya dengan slogan matawai amahu pada njara hamu. Kalimat itu, kurang lebih bermakna mata air yang jernih dan padang rumput untuk kuda yang hijau. Bukan sesuatu yang berlebihan, karena pulau ini memang dibelah Sungai Kambaniru yang mengular dari Gunung Wanggameti menuju Laut Sawu.

Namun, tak sepanjang tahun sungai itu berlimpah air. Pulau Sumba, sebagaimana kebanyakan tanah di Nusa Tenggara Timur, hanya mengalami hujan selama 3 bulan dalam setahun. Jika kemarau datang, Sungai Kambaniru perlahan menurut debitnya. Karena itulah, kata Muslihin, seorang penyuluh pertanian di Kabupaten Sumba Timur, mayoritas petani disana dulu berladang. “Tanaman padi juga ada, tetapi padi ladang. Memang orang Sumba itu umumnya adalah peternak, memelihara ternak di ladang, di savana,” kata Muslihin.

Tahun 1992, pemerintah membangun bendungan di Kambaniru. Saluran irigasi pun dibuat, dan petani memiliki kesempatan lebih panjang menanam padi. Namun, hasilnya tetap tidak seberapa. Sampai kemudian, metode SRI (System of Rice Intensification) diperkenalkan pada mereka.

Ada kita pakai petani yang masih muda menjadi demonstrator untuk melaksanakan metode SRI disini. Hasilnya memang begitu bagus. Dengan metode lama, tahun pertama kita hanya dapat 1,8, ton per hektar, kemarin dapat 4,8 ton per hektar dalam satu kali panen, gabah kering panen. Jadi dari 1,8 ton ke 4,8 ton. Itu baru dua kali panen,” kata Muslihin.

Dalam metode SRI ini, petani diajak menanam bibit pagi yang masih muda. Bibit ditanam ketika berumur 14 hari, bukan 21-30 hari seperti biasa. Langkah ini memperbanyak anakan tanaman. Perbedaan kedua, jarak tanam lebih lebar dengan satu lubang satu anakan saja. Bibit juga tidak boleh ditanam terlalu dalam dan pengairannya dilakukan berselang. Metode SRI, kata Muslihin sangat cocok karena daerah mereka miskin air. Tanaman padi ini justru tidak harus direndam air dalam jangka lama.

Kendalanya, kata Muslihin, adalah pola pikir. Petani sulit mengadopsi metode baru karena khawatir resiko gagal. Karena itu, dipilih petani muda sebagai contoh, dan ketika berhasil, petani tua pun sukarela mengikuti. Gilbert Harangmbani, petani dari Desa Luku Kalara mengaku metode ini sempat mereka pertanyakan. “Awalnya petani ragu, karena pola tanam 1 anakan ini kami anggap sangat beresiko. Namun saat ini kami sudah merasakan dampak baiknya,” kata Gilbert.

Metode dan Teknologi Baru

Metode ini diperkenalkan kepada petani oleh Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. Mereka bekerja sama dengan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dan pemerintah daerah setempat. Selain SRI, UGM juga membawa teknologi ke dalam metode ini untuk meningkatkan hasil pertanian.

Petani diuntungkan dengan teknologi dari ini. Menurut Bayu Dwi Apri Nugroho dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM, mereka membangun telemetri tanah, udara dan air. Aplikasi berbasis web dan android juga diperkenalkan untuk meningkatkan hasil panen, menghemat kebutuhan bibit, menghemat kebutuhan pupuk, dan mengurangi kebutuhan air hingga 25 persen.

Panen raya padi metode SRI di Sumba Timur, Kamis 25 April 2019. (courtesy: Bayu Dwi)

“Termasuk dari sensor itu, kita juga bisa menghitung efek gas rumah kacanya, emisinya berapa. Salah satu tujuan pemerintah adalah mengurangi emisi gas rumah kaca. Dari situ akan kelihatan berapa emisi gas rumah kaca yang dihasilkan di suatu lahan pertanian. Karena selama ini, pertanian merupakan salah satu penyumbang terbesar gas rumah kaca,” kata Bayu.

Kerja sama pengembangan demplot SRI antara ICCTF dan UGM sudah dimulai sejak musim tanam pertama tahun 2018 hingga saat ini. Mereka mencatat, peningkatan produktivitas padi yang cukup signifikan. Dengan metode konvensional, petani menghasilkan 5-6 ton per hektar. Melalui metode SRI, rata-rata setiap petani mampu memanen tambahan 3 ton padi per hektar. “Peningkatan signifikan terjadi di Desa Tarus yang semula rata-rata 5,6 ton per hektar menjadi 12 ton per hektar,” tambah Bayu.

Proyek rintisan ini, kata Bayu, dimulai pada 2016. Setahun setelah itu, panen raya membuktikan hasil dua kali lipat dari metode konvensional. Pemerintah NTT pun meminta metode SRI dikembangkan terus ke seluruh wilayah provinsi itu. Sumba dipilih, kata Bayu, karena merupakan daerah kering dan wilayah tertinggal.

Adaptasi Perubahan Iklim

Jika metode ini berhasil diterapkan di wilayah miskin air, kata Bayu, langkah ini sekaligus merupakan bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Meski belum banyak memperoleh perhatian di kalangan petani Indonesia, efek buruk perubahan iklim sebenarnya sudah dirasakan. Apalagi bagi NTT yang beriklim kering.

Pekan lalu, petani dan sejumlah pihak yang terkait dalam pengembangan metode SRI melakukan panen raya di desa Luku Kalara, Kecamatan Kambera, Sumba Timur. Andi Abikusno, Direktur Operasional ICCTF hadir dalam acara tersebut. “Metode SRI adalah sebuah inovasi meningkatkan ketahanan pangan masyarakat sekaligus sebagai upaya adaptasi mengantisipasi perubahan iklim. Sektor adaptasi dan ketangguhan merupakah salah satu fokus area pendanaan ICCTF,” ujar Andi.

Hadir pula Jason Seuc, Direktur Pelaksana dari Kantor Lingkungan Hidup United States Agency for International Development (USAID). Jason mengatakan, pemerintah Amerika Serikat melalui USAID mendukung upaya Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca sektor kehutanan, pertanian, energi, dan sektor lainnya. Kepedulian itu merupakan bagian dari penanganan dampak perubahan iklim serta penanggulangan bencana alam.

Melalui kerjasama dan pemberian dana melalui ICCTF, Amerika Serikat terus terlibat dalam kerja sama mewujudkan pembangunan rendah karbon. Selain itu, juga meningkatkan ketahanan iklim untuk melindungi lingkungan dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Muslihin (baju abu-abu) memberi contoh penerapan metode SRI ke petani Sumba (courtesy: Muslihin)

“Penerapan sistem SRI ini mungkin merupakan solusi nyata bagi kondisi iklim di Sumba Timur dan kami sangat senang dapat menjadi bagian upaya peningkatan kapasitas pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim,” kata Jason.

Bupati Sumba Timur, NTT, Gidion Mbilijora bahkan berharap, metode ini akan terus disebarluarkan di wilayahnya. “Karena hasil nyatanya, sudah disaksikan dan dirasakan oleh petani,” katanya.

Sumber: VOAINDONESIA

  • Kamis, 02 Mei 2019 - 08:41:04 WIB
  • Muh. Hifzul Fikri (Joung)

Berita Terkait Lainnya